Wednesday, 15 June 2016

Bagaimana Kalau Kurikulum Dilimpahkan ke Masing-masing Sekolah Saja


Mungkin kita sering mendengar kalau kurikulum pendidikan seringkali diubah-ubah, pro-kontra, dan kendala lainnya. Kebijakan kurikulum yang berubah-ubah itu sebenarnya karena menyesuaikan dengan zaman yang juga berubah. Gak mungkin juga kan kurikulum 1945 dulu dipakai sekarang?

Pemereintah khususnya Kemendikbud pasti juga sudah mempertimbangkan hal ini, mulai dari studi lapangan sampai berdiskusi dengan ahli-ahli pendidikan. Namun beberapa kaum sinisme akan menganggap perubahan itu menjadi hal yang dianggap tidak baik. Kebanyakan mereka adalah pelaku kebijakan itu sendiri, yaitu guru. Mulai dari menganggap kebijakan itu merepotkan mereka, dinggap guru dan murid adalah percobaan seperti kelinci, sampai membodohkan siswa.

Memang perubahan seperti ini jika dilihat dari satu sundut pandang saja bisa jadi merepotkan. Siswa harus ganti buku kurikulum baru, guru mengganti format perangkat pembelajaran, ikut diklat, dll. Tapi bukankah kita memang tidak pernah bisa menghindar dari perubahan itu sendiri?

Jika perubahan kurikulum dan kebijakan lainnya selalu menjadi sebuah permasalahan. Bagaimana jika sebaiknya kurikulum baku dari pemerintah pusat itu dihapuskan saja. Berikan saja wewenang kurikulum itu ke masing-masing sekolah. Bukankah instansi sekolah yang di dalamnya ada guru lebih mengetahui lebih pasti apa yang dibutuhkan siswa itu sendiri.


Kurikulum Mandiri

Jika kita melihat secara global Indonesia ini sangat luas dari Sabang sampai Merauke. Dengan bahasa yang berbeda, potensi daerah, agama, kultur-budaya, ras, dan lingkungan yang berbeda. Perkembangan teknologi dan soial pun berbeda, bahkan sangat tidak seimbang antara kota satu dengan lainnya. Lalu kenapa harus disamaratakan?

Coba saja dibayangkan semisal suatu sekolah mengembangkan kurikulum sendiri. Mereka bisa lebih mengedepankan bidang tertertentu akademik, teknologi, budaya, olahraga. Ibaratnya seperti sebuah brand, masing-masing sekolah memiliki brand tersendiri. Siswa pun akan memilih sekolah menyesuaikan dengan bakat dan minat mereka. Ya, sebut saja konsep ini sebagai Kurikulum Mandiri

Bukankah sekolah sekarang ini adalah sebuah pemaksaan? Semua dituntut untuk bisa Matematika, Biologi, Fisika, Akuntansi, Sejarah, dll. Lalu esensi pembelajarannya? Semua sama saja akhirnya hanya menghafal. Bukankah ini tidak adil bagi mereka yang memiliki bidang minat yang berbeda? yang tidak mempunyai daya kognisi yang bagus? Mereka yang otak kanannya lebih berkembang dibanding otak kirinya?

Kurikulum Mandiri juga bisa memberikan efek yang bagus bagi sekolah itu sendiri. Semua akan terpacu untuk tujuan yang lebih spesifik, mereka akan berlomba-loba untuk menjadi sekolah dengan brand yang pas dan baik. Ahli-ahli bisa saja muncul di instansi ini karena mereka akan terus berpikir, menganalisa, dan memperbaiki.

Selain itu bisa saja mengangkat potensi daerah tersebut. Misal jika potensi di daerah sekolah itu adalah mengukir, maka bisa dijadikan mata pelajaran mengukir. Jika daerah itu adalah persawahan, maka diajarkan pula mata pelajaran bertani. Bukankah itu lebih baik, daripada mengajarkan hal yang sebenarnya tidak dibutuhkan oleh siswa. Iya kan?


Penulis : Nisrina L.W

No comments:

Post a Comment